close
Puisi

Surga Kelam

Semburan hitam menjadi mimpi buruk anak cucu kami

Bukan lagi hijau ranau yang menyelimuti selaput sayu mata

Bau anyir dan pekatnya tanah kelam sebagai tanda sejarah

 

Beratus-ratus peneduh kehidupan tenggelam dalam kepekatannya

Kehidupan bukan lagi bisa dikatakan hidup

Rangka yang melekat bukan lagi sebagai penggerak

 

Rasa lapar yang menghadang terabaikan

Kecap manis birokrasi sebagai kabar burung tak bermakna

Perempuan-perempuan menjual sebangsanya demi rupiah

 

Anak-anak kehilangan masa depannya

Penduduk kehilangan mata pencahariannya

Hanya janji-janji yang terlontar

 

Surga kelam menjadi warisan tanah porong

Ania

penyuka sastra, traveling, berkhayal, penggemar puisi Aan Mansur (Tidak Ada New York Hari Ini).

Nur Fitriyani

The author Nur Fitriyani

penyuka sastra, traveling, berkhayal, penggemar puisi Aan Mansur (Tidak Ada New York Hari Ini).

Leave a Response