close
CerpenSastra

Apti dan Syaki, Singa dan Kelinci di Hari Pancasila

Kasur kamar lusuh dan penuh ingus. Baunya menyengat sampai bulu hidung merinding, tapi tidak untuk sang pemilik kasur, Apti. Beberapa serangga tak sanggup terbang atau berlayar di atas kasurnya, menjauh dengan jarak minimal satu meter. Jelas, Apti ketika tidur tak diganggu serangga manapun.

Sebelas hari putus asa, merasa kejenuhan memuncak hingga menjebol bendungan kebisingan. Dia memutuskan semedi di kamar (baca: tidur). Menikmati segala keheningan dan bau busuk darinya.

Tak ada niat membersihkan kamar, atau sekedar memindahkan bantal dan guling yang terjatuh di lantai kembali ke ranjang. Mengunci rapat pintu, begitu rapat hingga kecoakpun akan tergencet jika memaksa masuk.

Inilah cerita sisi kegelapan bocah SMA yang mengendap di dasar keputus-asaan. Tak ada cahaya matahari yang benar-benar. Hanya pantulan dari kaca tebal kamar yang debunya sama tebalnya dengan daki di punggungnya.

Seorang teman –sama-sama perempuan – mendatangi kost Apti. Dia melayangkan surat panggilan dari sekolah, sebab beberapa hari tak nampak tatapan sinis atau umpatan kekesalah tanpa sebab yang biasanya dilepaskannya . “sejak lahir Apti kerasukan setan ketidakjelasan.” Ungkap rumpian –entah teman entah bukan.

Tapi, kejorokkannya tidak membuat semua manusia di muka bumi menjauh. Ada ibu kost yang tetap mendatangi kamar sialannya, untuk menagih uang sewa yang dicicil. Selain itu, seorang teman yang cukup peduli, sungguh, dia sama sekali tak terlihat gila mirip Apti.

Seekor kelinci pemalu yang mendatangi kandang singa kelaparan, kadang malah membuat sang singa tak nafsu melahap santapan itu. Syaki nama teman itu. Sifatnya berbanding terbalik –hampir semua – dengan Apti. Setidaknya itu yang terlihat.

***

Sore setelah bola raksasa di langit melewati ubun-ubun yang pening. Syaki datang, mengetuk pintu, mengucapkan salam yang diajarkan agamanya. Dijawab cicak dengan bahasa yang sulit dimengerti. Pintu kamar terbuka sedikit, tak dikunci setelah beberapa saat tadi Apti dari kamar mandi, nyatanya Apti masih tertidur.

Syaki buka pintu itu, bunyi decitan membuat cicak yang menjawab salam tadi lari merayapi dinding yang catnya banyak terkelupas. Bersembunyi dibalik kalender tahun lalu. Dari sana pula cicak yang lain segera pergi.

“hwaaaaaaa!!!” teriak Apti ketika Syaki mendekat.

“kau tertipu kan, aku tak benar-benar sedang tidur.” Kemudian dia tertawa lantang.

Apti lebih mirip perempuan yang maskulin, seperti singa betina yang berburu. Singa jantan menunggu mangsa yang dibawa singa betina sambil menyusui anak-anak singa. Entah dengan apa..

Raut wajah Syaki tak kaget, tak kesal, apalagi takut. Wajahnya merah padam, dia marah. “mengapa kau diam saja ketika aku mengucap salam?!”

Apti terdiam, merasa tertampar hingga kepalanya terbalik.

“ada surat panggilan untukmu, kau beberapa hari tak hadir!”

“oke, aku terima dan segeralah pergi.”

“mengapa, kau berantakan seperti ini, aku akan membantumu.”

“jangan terlalu baik, aku kapanpun bisa begitu tak menyenangkanmu!”

Syaki mulai merapikan kamar Apti, mengganti sprei kasur, menata bantal dan guling, pakaian yang tercecer, memindah asbak penuh puntung rokok dan dua bungkus rokok yang kosong di sampingnya. Kemudian mencuci beberapa gelas sisa kopi di lantai kamar, yang ampasnya sudah mulai mengeras.

Satu jam kemudian kamar Apti tak semenjijikan kemarin. Tak sebau pagi tadi. Dia hanya duduk diam di kursi goyang yang sudah tak mampu bergoyang, sebab kaki melengkungnya patah dua. Debu-debu di kaca jendela sudah tak terlihat, malah nampak di luar sana lapangan hijau yang kekuning-kuningan terkena sinar senja.

“besok 1 juni, kau tau kan? Hari Pancasila.”

“kukira besok kamis.”

“kuharap kau bisa tau maknanya, kau bisa menerapkannya. Banyak teman-temanmu yang sebenarnya peduli, kau tau? Hanya saja mereka diam, tak berani bicara sebab sikapmu yang kaku.”

“lantas mengapa kau sudi kemari? Berbicara omong kosong ini denganku? Sebab suruhan dari guru?”

“bukan, tak sekedar itu. Kau manusia, seberantakan apapun, dan kau temanku!”

Pintu kamar tertutup perlahan. Diiringi ucapan salam Syaki.

Apti membalas dengan lirih. Dua perempuan ini tak dekat, walaupun sekelas. Apti yang selalu mendominasi pembicaraan di kelas dengan teman laki-laki, Syaki yang tak banyak tingkah berbicara banyak hanya dengan sesama perempuan.

Cicak yang pergi dari balik kalender tahun lalu kembali ke sana. Berdua bersama cicak yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Mereka akrab, sebab mereka sama-sama cicak. Kadang saling menggigit hingga ekor putus karena rebutan betina untuk kawin. Wajarlah, mereka binatang.

Apti dan Syaki sama sekali bukan cicak, mereka sama-sama manusia, sama-sama perempuan. Sama sekali tak ada alasan pembenaran untuk meninggalkan satu sama lain, seberbeda apapun!

***

Pagi esoknya di sekolah, Apti menyapa setiap mata yang melihatnya. Siapa saja. Tentu dengan senyum yang sangat terlihat tulus. Ketika masuk kelas, diucapkannya salam yang biasanya. Entah mengapa, penghuni kelas tertegun, lebih kaget melihat Apti menjadi ramah daripada harga sembako yang selalu naik ketika menjelang ramadhan.

Pasokan yang tetap, bertemu permintaan pasar yang makin besar, membuat mau tidak mau harga sembako melonjak. Apalagi ramadhan, orang-orang yang beragama islam sibuk memenuhi kebutuhan berbuka dan sahurnya. Hari ini 1 juni dan puasa. Hari ini Apti tak seperti biasanya.

Rambut Apti sebahu itu makin rapi, tak kusut seperti hari-hari biasanya. Baju rapi, tak ada ujung baju yang keluar seperti hari-hari sebelumnya. Paling mengejutkan ketika berkelompok, dia membantu mengerjakan tugas kelompok.

“baru kemarin sore aku berbicara padamu.” Sapa Syaki.

“kata-katamu memang sakti, Syaki.” Apti melepas senyum. “kau tau? Inti sari Pancasila adalah gotong royong?”

Syaki tertegun diam karena girang. Setelah sekian lama, sekolah pulang. Jadwal memang demikian, lebih 30 menit dari jadwal yang disepakati. Lebih karena guru matematika yang itu terlalu melayang menjelaskan. Bisa ditolerir, semua tau guru-guru itu mengejar materi yang harus tersampaikan dan dipahami dengan akumulasi waktu yang sedikit. Apti segera pulang, buru-buru, seperti akan mengerjakan kewajiban agamanya.

***

“Sialan!!” umpat Apti setelah bantingan pintu yang pertama.

“mana mungkin kau bisa terus berpura-pura seperti tadi? Dengan senyum yang menjijikan. Aku tau tak satupun dari mereka memiliki hati yang tidak menipu.”

Cicak yang suka sembunyi di balik kalender tahun lalu terkekeh. Ia tertawa melihat perilaku manusia. “Di wajah manusia berjejer topeng-topeng yang siap digunakan. Kadang saat menggunakan topeng tak terasa nyaman, harus ditahan. Menyenangkan semua orang berarti memenuhi apa yang mereka semua inginkan. Dan, mereka menginginkan aku menjadi bukan diriku, mereka ingin aku santun dan penuh kepura-puraan.” Pikir Apti sebelum terluapkan segala amarah.

Bantingan pintu kedua terdengar! Urat lehernya mulai menegang, jerit lirih terdengar samar-samar, “Mereka menginginkan aku menjadi bukan diriku, mereka ingin aku santun dan penuh kepura-puraan.”

Cicak di balik kalender tahun lalu sudah tak bisa terkekeh, tak berani tertawa.

***

Hanya dengan satu malam. Apti menjadi perempuan yang sangat nasionalis. Dia benar-benar menerapkan nilai tiap butir Pancasila di sekolahnya. Ya, di sekolahnya, tidak di kamarnya. Menjadi teman ideal bagi seluruh umat.

Pada akhirnya, semua kepura-puraan adalah seperti bangkai. Jika tidak waktu, keadaan akan mengungkap. Waktu sendiri sangat rakus, apapun dimakannya. Kesenangan teman-temannya juga termakan, berganti dengan kemurkaan.

Singa betina itu dikucilkan sebab tak lagi mau berburu. Singa betina itu lebih memilih menyusui anak-anak singa. Kelinci pemalu tadi siap memangsa singa betina itu..

Satu minggu berlalu, Syaki mengetahui kepura-puraan Apti. “mengapa?” Syaki seperti tak sanggup menerima. Pintu kamar Apti terbuka lebar, Syaki melihat wujud yang sama seperti dulu, bahkan lebih kumuh. Kamar yang sangat berantakan, kotor, dan bau.

Apti sangat tidak nyaman dengan kepura-puraan. Dia seperti terkekang, tiap rantai mengikat leher, tangan, dan kakinya. Dia ingin bebas, senanglah Apti jika semua terbongkar, dia girang. Dia bebas!

“aku mencoba menyenangkanmu!”

“dengan kepura-puraan?” tanya Syaki, ia mulai terisak.

“kau kira setelah tau, aku akan senang?” imbuhnya.

Di kamar persegi 4×4 meter. Apti duduk di ranjang, Syaki tetap berdiri tegak didepannya. Makin beringas isak yang sudah-sudah. Serasa waktu gagap melanjutkan jalan. Berhenti cukup lama, membuat Apti memikirkan suatu kebenaran yang sangat mengerikan.

“apa masalahmu, Syaki? Tiba-tiba kau datang ke kostku, masuk kamarku, merapikan segala yang kau anggap tak rapi, dan menyampaikan bahwa esok hari adalah hari Pancasila? Hanya karena surat panggilan dari sekolah? Apa kau yakin, kau tidak sedang berpura-pura sepertiku?”

“tapi, kepura-puraanku mengamalkan tiap butir pancasila itu tetap ada gunanya, kau tau bukan?” senyum Apti telah kembali. Senyuman yang mirip malaikat pencabut nyawa yang akan melaksanakan tugasnya.

Syaki keluar, tanpa salam. Entah ekspresi apa yang sedang ia sajikan. Dia keluar, berjalan pulang. Sembari berjalan, Syaki berbisik dengan dirinya sendiri, “kau benar Apti, kaulah manusia paling jujur yang pernah aku kenal. Sebab itu aku datangi kamarmu, aku minta kepada guru agar aku saja yang mengantar surat itu dulu.”

“kau jujur pada orang lain, kau jujur pula pada dirimu sendiri. Sebenarnya aku iri denganmu.”

Di kamar kumuh yang lebih parah, lebih berantakan, lebih bau daripada kamar Apti. Itu kamar Syaki! Syaki, dialah penipu ulung. Penipu yang disukai orang banyak. Syaki tipu semua orang, ia bahkan tipu dirinya sendiri. Menipu agar semua orang percaya bahwa ia adalah seorang Nasionalis.

Kamar itu lebih gelap. Syaki tak menyukai banyak cahaya. Lebih banyak pula serangga berterbangan sipojok ruang kamar. Banyak pula yang merangkak di bawah kolong ranjang. Dimana-mana pakaian tercecer. Bau.

“bagaimana? Mengapa hanya satu minggu kepura-puraanmu sudah terbongkar..”

“sulit bukan…?” Syaki tersenyum. Syaki mulai tertawa.[]

Meyakini berasal dari trah dewa. Lahir dari rahim bidadari yang susah payah menyamar sebagai manusia biasa.

Tags : HARI PANCASILAhitam putihmanusia
Jusuf Fitroh

The author Jusuf Fitroh

Meyakini berasal dari trah dewa. Lahir dari rahim bidadari yang susah payah menyamar sebagai manusia biasa.

Leave a Response