close
Cerpen

Kisah Horor di Kampus

Pohon-pohon tinggi yang ia tak tau namanya itu selalu membuatnya merinding, terutama saat menjelang petang –orang romantis menyebutnya senja. Sebab ia rasakan waktu tak lagi maju, waktu stagnan seolah akan menusuk siapa saja dengan dingin dan kengerian. Angin sayup dan syahdu berubah menjadi pembius ketika bertemu pohon-pohon itu kala petang. Menggerakkan dedaunan di pucuk dan ranting kecil di pinggirannya. Apta membeku takut dan ngeri.

Hujan turun dengan berahi membuat basah bumi. Deras yang keterlaluan. Tengah malam itu menjadi kelap-kelip oleh Zeus yang memainkan mainannya dan Poseidon yang rindu dengan airnya. Langit beradu dengan gemuruh air yang diguyur dari atas, juga meledak-ledakkan gendang telinga mungil Apta di balik jendela.

Ia penasaran. Disibakkan tirai kasar itu, kemudian menempelkan jidat ke kaca jendela. Matanya binal menyaksikan pertunjukan tempur elemen alam; air, angin, dan beberapa petasan langit.

“Apta, cepatlah tidur.” Suara mengantuk perempuan yang terbangun oleh berisik tempur di luar.

Ia hanya menoleh, kemudian kembali memalingkan wajahnya. Belum sampai puas matanya menikmati pertunjukan itu. Ia sangat menyukai badai yang tak merusak seperti sekarang. Ingin berada di tengah-tengahnya dan merasakan di kulitnya dingin dan merinding.

Hampir pukul satu, tanpa pegal yang berarti ia terus saja menempelkan jidatnya ke kaca jendela. Perempuan yang memanggilnya sudah lelap di kamar. Tak lama, hujan yang mengguyur sudah tak lagi berselera turun. Hanya gemerlap kilat di balik awan kemudian membuatnya bosan. Ia menangis, kenapa hujan dan angin buru-buru meninggalkannya di malam yang syahdu.

Tangisnya makin merajalela. Tetap ditempelkan jidatnya ke kaca jendela. Mungkin ia mencoba membuat hujan dan angin dari dirinya agar mirip yang tadi. Suara keras dari mulut mungil Apta belum membangunkan perempuan yang telah tidur duluan dengan selimut hangat di kamar.

Di luar jendela hanya hitam sebelum diterangi lampu alam yang menggelegar dan menampakkan sosok wajah tepat di depan jidatnya yang tak bakal ia lupakan seumur hidup, setidak-tidaknya membuat trauma sampai ia masuk kuliah seperti saat ini.

***

Apta adalah pekerja malam di kampusnya. Seorang mahasiswa gembel yang mencari tempat berlindung dari hujan dan angin. Padahal, sewaktu kecil ia sangat menyukai sampai mengharapkan datangnya hujan dan angin bersamaan. Semua berubah, tuan. Bukankah kehidupan berjalan sebab ada perubahan dan putaran?

Sungguh beruntung beribu untung. Ia tak sendiri kala malam, setidak-tidaknya ada satu atau dua mahasiswa yang bernasip demikian, mirip dirinya. Menjadi penjaga malam yang malah dianggap pembuat keonaran ia nikmati seperti menghisap rokok di kantor yang jorok.

Tapi malam ini berbeda. Hujan datang menyusul angin yang sudah menunggu sambil bermain-main dengan dedaunan pohon tinggi di kampusnya. Hanya ada seorang perempuan, begitu culas dan cadas. Omongannya sangat njanjukki, sama-sama menusuk seperti kenangannya akan hujan dan angin di masa kecil tadi. Tak apalah, asal tak sendirian. Pikirnya.

Apta adalah laki-laki yang penakut –aku lebih suka menyebutnya trauma masa kecil yang tak dipedulikan orang-orang tapi malah dikutuki dan dihujati— akan hal-hal berbau busuk kuburan dan kain kafan. Kesadaran teman-temannya soal orang menjadi sesuatu yang unik dan berbeda adalah hasil bentukan yang sama sekali tak ia ketahui, tapi teman-temannya selalu merasa tau segalanya. Bahkan sampai kehidupan privat Apta. Apta dijarah privasinya dan kemanusiaannya dibuat main-main. Ia sudah lelah, teringat omongan seorang teman yang menginkan mati muda saja.

Apta pendosa ulung, terlihat dari rambut mengkilat tanda sering mandi wajib. Juga baju yang rapi sampai kancing baju paling ujung menyatu. Celana dalam ganti empat kali sehari, kecuali saat tidur –ia tak memakai, membiarkan kulitnya bernafas. Sepatu selalu dipakai, juga tidak bau. Sampai-sampai, saat nongkrong di warung kopi-pun ia akan duduk meluruskan punggungnya.

***

Petang sudah lenyap. Tapi hujan dan angin tetap setia menunggu Apta menjerit-jerit dan menangis mirip masa kecilnya. Hujan dan angin dimanapun sama, terutama di angan Apta. Selalu menampakkan kengerian dan kebekuan yang dahsyat.

Ia rasa semua sudah berlalu, ia telah lama mendekam di pojok kantor. Di dalam hanya ada mereka berdua, perempuan itu sedang lembur tugas kuliah dua minggu lalu yang bakal rampung dalam semalam. Apta lihati arloji entah milik siapa yang tergeletak, “pukul sebelas lebih.” Ucapnya lirih.

Apta tak memperlihatkan ketakutannya kepada perempuan itu. Ia rasa semua akan baik-baik saja. Terlebih lagi ia sangat tidak ingin menganggu mahasiswa sakti mengerjakan tugas yang sudah menumpuk dalam dua minggu, kemudian dibendel yang bakal jadi tugas semalam. Murkanya adalah kengerian kedua.

Lebih dari tengah malam kejolak di luar telah hengkang. Nyatanya mendekam ketakutan membutuhkan banyak kalori. Sekarang ia kelaparan dan ragu-ragu pergi keluar. Jangan-jangan penampakkan waktu kecilnya menunggu di depan pintu kantor salah satu organisasi itu. Ia coba cari akal, tanpa ketahuan mengajak perempuan itu tapi ia ikut bersamanya.

“Aku mau keluar, mau pesan?” berharap pesanan perempuan itu rumit, kemudian ia ikut menemani.

“Air minum.” Sambil menyodorkan uang tiga ribu perak di atas meja.

Mata perempuan itu terfokus pada tugasnya. Tak goyah dan begitu istiqomah. Ia tak melihat Apta dengan raut muka masam sebab kail pancingnya sama sekali tak dilirik ikan.

“Apalagi?”

“tak ada.”

“yakin?”

“kau kenapa? Cepat pergi! Aku haus.” Matanya tetap menatap ke tugas, sama sekali tak menghiraukan Apta.

Kesialan apa yang membuat ia lapar tengah malam? Apa sebab pola makan, pola tidur, atau sampai Nocturnal Eating Syndrome? Entahlah. Yang jelas ia sudah jengkel pada 3 hal yang lalu: malam dengan kengerian, ketusnya ucapan perempuan ini, dan rasa lapar.

Dengan berat hati dan memberanikan diri ia keluar, matanya lebih liar mencari hal-hal tak wajar. Kemudian ia naiki kendaraan, tangannya masih gemetar dan kedinginan. Ia pandangi pohon-pohon yang tinggi yang hitam diselimuti malam di pinggiran jalan menuju gerbang keluar. Semoga tak ada keanehan seperti orang yang sangat kurang kerjaan kelewat tengah malam memanjati pohon, misalnya seperti itu. Pikiran-pikiran itu segera ditampis dengan memikirkan hal-hal menyenangkan, mengisi perut sambil menonton filem.

Suhu dingin selepas hujan tengah malam mulai masuk kerah dan yang lain memegangi tangan Apta. Sukses membuatnya menggetarkan rahang dengan cepat. Dan mengeratkan genggaman ke stang. Ia gas saja, berharap kebekuan di ujung kaki dan jari dan gigi segera berakhir. Kendaraan sudah melesat cepat melewati jalan raya yang lenggang.

***

Malam hampir pagi dan dingin makin menjadi. Sejam penantian perempuan itu di kantor, Apta datang, dengan tangan kosong. Sang perempuan tak meliriknya sama sekali. Ia tetap sibuk dengan tugas. Tak peduli.
Apta butuh hiburan, rasa kantuk telah lenyap terseret air sisa hujan tadi malam. Ia coba menakut-nakuti sang perempuan.

“hati-hati kalau lembur, banyak penunggunya disini.” Ucapnya menirukan orang ketakutan –yang sebenarnya memang takut.

“eh apa itu? Di atas lemari?” pura-pura kaget.

Perempuan itu tetap diam seolah sama sekali tak memanusiakan Apta. Ia coba tirukan suara kuntilanak yang malah terdengar mirip rintihan perempuan mau melahirkan. Apta mulai takut. Perempuan itu tetap membeku persis saat pertama kali ia tinggalkan tadi.

“Hei..!”

“Woi..!”

Apta panggili tetap saja tak ada sahutan atau sekedar tatapan sinis yang biasanya. Ia merinding! Perempuan itu melihat ponselnya, melihat sesuatu dan seolah terkejut. Tugasnya sudah bukan perhatiannya. Jelas itu bukan kabar dari kekasih –sebab Apta tahu ia sendirian sejak dahulu kala.

Apta merasa bingung. Juga takut terhadap perempuan di depannya. Dengan hati-hati dan siaga yang dimaksimalkan ia dekati perempuan itu.

TEMBUUUSSS!!!! Pekiknya dalam hati!

Apta sekejab mundur tiga langkah ke belakang. Tangannya tetap siaga mirip penjaga gawang, seolah akan ada hal yang tak mengenakkan menyerang, pengulangan kejadian di masa kecilnya.

Perempuan itu berdiri, sambil berbisik lirih dan kawatir di tempat. “Apta semoga kau baik-baik saja.”

Ponsel ia letakkan di atas tugas-tugas.

“Oh, gambar kecelakan dari grup,” Apta melihatnya, “tunggu dulu, aku seperti mengenal baju itu.” Imbuhnya. []

Meyakini berasal dari trah dewa. Lahir dari rahim bidadari yang susah payah menyamar sebagai manusia biasa.

Tags : hororkampus
Jusuf Fitroh

The author Jusuf Fitroh

Meyakini berasal dari trah dewa. Lahir dari rahim bidadari yang susah payah menyamar sebagai manusia biasa.

Leave a Response