Tulun­ga­gung – Rabu, 30 April 2025, Gulung Tukar dan Kopi Sine­ma gelar diskusi malam yang berlang­sung di Warkop Gutuhaus berta­juk “Tem­pat Diskusi”. Acara terse­but dibu­ka den­gan pemu­taran ulang film Indone­sia, Turang, yang sem­pat hilang aki­bat repre­si poli­tik pas­ca 1965. Film Turang yang digarap oleh sutradara Bachtiar Sia­gian men­ja­di bahan diskusi peser­ta saat itu yang ter­diri dari sejarawan, jur­nalis, sineas, dan aktivis. Mere­ka meny­oroti pent­ingnya mem­bangk­itkan kem­bali karya-karya yang sem­pat dis­ingkirkan kare­na afil­iasi poli­tik pem­bu­at­nya. “Pemu­taran kem­bali Turang adalah ben­tuk per­lawanan ter­hadap pem­bat­asan kebe­basan berek­spre­si,” ujar Radat­ul Munawaroh, peman­tik diskusi dari Gulung Tukar.

Acara ini mem­bongkar lapis-lapis mak­na film yang diang­gap pro­gre­sif pada zaman­nya. Tidak hanya menya­jikan narasi ten­tang perang, Turang jus­tru memusatkan ceri­ta pada perem­puan biasa yang men­ja­di aktor pent­ing dalam per­juan­gan melawan kolo­nial­isme. Tipi, tokoh sen­tral dalam film, men­ja­di lam­bang ker­ja per­awatan dan keteguhan war­ga perem­puan sip­il dalam men­dukung pejuang gerilya.

Biasanya film perang itu maskulin, penuh ade­gan kek­erasan. Tapi di sini yang dita­mpilkan adalah resisten­si perem­puan dalam ben­tuk mer­awat dan berta­han,” ungkap Laila Muhib­bah, sejarawan. Per­spek­tif semacam ini jarang men­da­p­at tem­pat dalam narasi his­to­ri­ografi Indone­sia pascakemerdekaan.

Diskusi juga meng­garis­bawahi bagaimana kolo­nial­isme tidak hanya hadir seba­gai kekuasaan militer, tetapi juga mewu­jud dalam warisan cara berpikir, rasisme, dan ketim­pan­gan gen­der yang masih terasa hing­ga hari ini. Beber­a­pa pem­bicara meny­ing­gung bah­wa Turang adalah ben­tuk nya­ta dari real­isme sosial ala Lem­ba­ga Kebu­dayaan Raky­at (Lekra).

Film ini sem­pat dimus­nahkan dari peredaran masyarakat oleh negara kare­na diang­gap berhubun­gan erat den­gan komu­nisme. Namun, satu sali­nan berhasil dis­e­la­matkan dari luar negeri, berkat pemu­taran­nya di Fes­ti­val Film Asia Afri­ka pada era Sukarno.

Melalui acara ini, Sal­sa seo­rang jur­nalis berharap masyarakat kem­bali menyadari bah­wa per­lawanan ter­hadap penin­dasan bisa datang dari ruang-ruang kecil, dari tan­gan-tan­gan perem­puan, dan dari ingatan yang coba dikaburkan.

Sal­sa juga menam­bahkan bah­wa koloni­laisme saat ini bisa hadir dalam ben­tuk apapun. “Kolo­nial­isme hari ini bisa hadir dalam ben­tuk teknolo­gi, narasi media, bahkan pem­ban­gu­nan yang meng­gusur,” imbuh salsa.

Diskusi berakhir den­gan reflek­si bah­wa film seper­ti Turang tidak sekadar arte­fak sejarah, tetapi juga alat kri­tik sosial yang masih rel­e­van di ten­gah dunia yang terus berkembang.

Mengutip dari BBC, Film Turang hilang bersama den­gan film karya Bachtiar Sia­gian lain­nya dikare­nakan pada saat itu karya yang dihasilkan para sen­i­man yang ter­li­bat den­gan Lekra men­gala­mi pemus­na­han atau penyensoran.

kalau tidak dimus­nahkan, ya dis­en­sor,” ungkap Bun­ga Siagi4an dalam wawan­car­anya den­gan BBC.

Bun­ga juga menye­butkan dalam peneli­tian­nya, ia men­e­mukan doku­men Perusa­haan Film Negara (PFN) yang men­gin­struk­sikan peny­ingki­ran dan pemus­na­han film-film bertema komunisme.

Penulis: Sept­ian Putra
Edi­tor: Musto­fa Ismail