Tolak Pang­gil Prof  Kepa­da Pelaku Kek­erasan Seksual”

Kali­mat di atas meru­pakan isi sebuah postin­gan yang diung­gah oleh @blemanson2 pada akun tik­toknya. Sebuah kali­mat seder­hana tetapi banyak mem­bu­ka ruang tanya di kepala saya. Bagaimana mungkin sese­o­rang yang per­nah ter­li­bat kasus kek­erasan sek­su­al bisa dikukuhkan men­ja­di guru besar. Kiranya apa yang men­ja­di mak­na dari gelar itu. Apakah gelar terse­but hanya per­i­hal intelek­tu­al­i­tas bela­ka tan­pa mem­per­tim­bangkan etika?

Postin­gan terse­but mengin­gatkan pada suasana pen­gukuhan guru besar yang saya per­hatikan belum lama ini. Ser­e­moni penuh kebang­gaan, sosok-sosok yang dihor­mati naik ke pang­gung dan diberi gelar kehor­matan. Namun, di sela sorak sorai itu, ada per­caka­pan kecil yang ter­den­gar, “bukankah dulu dia per­nah…?” Ada bisik-bisik pelan ten­tang sosok yang dulu per­nah diduga ter­li­bat kek­erasan sek­su­al meskipun tidak ada lapo­ran res­mi yang menyatakan.

Guru Besar dan Integri­tas Moral

Melan­sir Kom­pas, Guru besar meru­pakan jabatan fung­sion­al tert­ing­gi yang bisa dida­p­at oleh dosen aktif di per­gu­ru­an ting­gi. Pen­gukuhan­nya dilakukan oleh negara, sehing­ga gelar ini diakui secara nasion­al dan digu­nakan untuk berba­gai kepentin­gan akademik di wilayah Indone­sia. Seo­rang guru besar dihara­p­kan dap­at men­ja­di rep­re­sen­tasi ter­baik di dunia akademik, baik secara keil­muan maupun kepribadian.

Pen­gukuhan guru besar bukan­lah sekadar ser­e­mo­ni­al bela­ka, tetapi adalah pene­gasan moral, sebuah pesan bah­wa sosok terse­but pan­tas dan layak dijadikan panu­tan. Namun iro­nis­nya, masih ser­ing dijumpai ter­da­p­at oknum dosen yang jus­tru meny­isakan per­soalan etik di masa lalu yang tak per­nah terse­le­saikan secara tun­tas. Di ten­gah semaraknya ser­e­moni dan legit­i­masi insti­tu­sion­al, jejak catatan kelam itu seo­lah tak per­nah men­ja­di pertimbangan.

Kek­erasan Sek­su­al di Kam­pus dan Masalah Sis­temik yang Terabaikan 

Per­lu kita ketahui bah­wa masih banyak kasus Kek­erasan Sek­su­al (KS) yang ter­ja­di di kam­pus dan tidak sedik­it maha­siswa yang men­ja­di kor­ban­nya. Menu­rut data dari Kementer­ian Pem­ber­dayaan Perem­puan dan Per­lin­dun­gan Anak (Kemen PPPA) per April 2024, ter­ja­di 2.681 kasus kek­erasan sek­su­al di lingkun­gan pen­didikan ting­gi. Kom­nas Perem­puan dalam Catatan Tahu­nan Kek­erasan ter­hadap Perem­puan (2024) menun­jukkan bah­wa 14.094 kor­ban adalah dari kalan­gan pela­jar dan maha­siswa. Stu­di lain oleh Bagong Suyan­to menye­butkan 9,7% dari 300 maha­siswi kor­ban KS men­gaku pelaku meru­pakan dosen atau asis­ten dosen.

Sayangnya, banyak kam­pus memil­ih bungkam demi men­ja­ga cit­ra baik insti­tusinya alih-alih mem­beri per­lin­dun­gan kepa­da kor­ban, sehing­ga banyak kasus tidak dipros­es secara transparan dan adil. Sebuah survei Kementer­ian Pen­didikan dan Kebu­dayaan (2020) menun­jukkan sebanyak 77% dosen men­gakui bah­wa KS ter­ja­di di kam­pus mere­ka. Namun, 60% di antaranya memil­ih untuk tidak mela­porkan. Pada­hal per­gu­ru­an ting­gi sebe­narnya pun­ya wewe­nang untuk mem­beri sikap tegas den­gan men­jatuhkan sanksi kepa­da pihak atau pelaku KS terse­but. Mis­al­nya seper­ti Uni­ver­si­tas Gad­jah Mada (UGM) yang meme­cat salah satu guru besar Far­masi UGM yaitu Edy Meiyan­to usai ter­buk­ti men­cab­u­li 15 maha­siswanya. Sayangnya, keberan­ian semacam itu masih jarang dite­mui. Lan­tas bagaimana den­gan kam­pus kita?

Kek­erasan sek­su­al di per­gu­ru­an ting­gi bukan sekadar sebuah masalah indi­vidu yang dise­babkan has­rat bejat pelaku saja, melainkan juga ada kai­tan­nya den­gan relasi kuasa yang dipun­ya. Pelaku meng­gu­nakan kedudukan­nya untuk menekan kor­ban yang posisi sosial­nya lebih lemah. Ini meru­pakan per­soalan moral dan eti­ka yang semestinya men­ja­di bahan per­tim­ban­gan dalam pen­gukuhan guru besar.

Keti­ka kam­pus hanya mem­biarkan pelaku yang diduga atau per­nah ter­li­bat kek­erasan sek­su­al, bahkan diberi gelar kehor­matan, maka dap­at diar­tikan bah­wa kam­pus sedang men­gir­imkan pesan kalau pelang­garan etik bisa dinegosi­asikan. Bah­wa pen­ca­pa­ian akademik bisa men­cu­ci bersih segala catatan hitam.

Kita Mau Kam­pus yang Seper­ti Apa?

Pen­gukuhan guru besar seharus­nya bukan hanya penge­sa­han admin­is­tratif, melainkan juga sebuah perny­ataan nilai. Jika insti­tusi pen­didikan mem­biarkan gelar guru besar diberikan tan­pa mem­per­tim­bangkan nilai dan integri­tas, maka apa artinya ‘guru besar’ selain hanya sekadar gelar kosong tan­pa mak­na? Kam­pus yang mem­bang­gakan gelar akademik tan­pa meni­lai integri­tas moral sama saja den­gan mem­perda­gangkan kehor­matan demi pres­tise semu.

Kam­pus harus berani mengam­bil sikap tegas dan tidak menut­up-nutupi rekam jejak pelaku pelang­gar etik demi men­ja­ga marta­bat akademik dan melin­dun­gi kor­ban. Dalam kon­teks ini, pem­ben­tukan dan pen­guatan Sat­u­an Tugas Pence­ga­han dan Penan­ganan Kek­erasan Sek­su­al (Sat­gas PPKS) seba­gaimana dia­manatkan dalam Per­me­ndik­bu­dris­tek No. 30 Tahun 2021 bukan­lah for­mal­i­tas bela­ka. Kam­pus per­lu mem­beri ruang dan dukun­gan penuh bagi Sat­gas untuk bek­er­ja den­gan mak­si­mal. Jika reg­u­lasi ini dijalankan den­gan serius, maka dap­at men­ja­di alat pent­ing untuk memas­tikan bah­wa pelaku tidak lagi berlin­dung di balik nama besar insti­tusi.

Penulis: Cindy Kusuma
Ilus­tra­tor: Bel­la Nur­jan­nah
Edi­tor: Musto­fa Ismail