Unit Kegiatan Maha­siswa Korps Sukarela (KSR) Palang Mer­ah Indoneisa (PMI) unit UIN Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah Tulun­ga­gung ala­mi sejum­lah kendala dalam menan­gani kese­hatan maha­siswa baru sela­ma PBAK (Pen­ge­nalan Budaya Akademik dan Kema­ha­siswaan) berlang­sung (25/08/2025). Kere­sa­han ini muncul aki­bat kurangnya per­si­a­pan pani­tia PBAK dan adanya misko­mu­nikasi keti­ka koor­di­nasi, khusus­nya terkait keterse­di­aan ambu­lans, per­ala­tan, dan obat-obatan.

Ahmad Umar, selaku ket­ua pelak­sana PBAK menu­turkan, bah­wa per­si­a­pan PBAK sebe­narnya sudah dilakukan dari bulan Mei. “Jadi kita Mei itu masih meng­godok den­gan teman-teman inter­nal Dema, kemu­di­an Juni itu kita open recruit­ment, Juli baru kita mulai push.” ujarnya. Mes­ki per­si­a­pan­nya berlang­sung sela­ma 3 bulan lebih, tim KSR masih ser­ing men­jumpai kendala saat PBAK berjalan.

Eko, selaku Koman­dan KSR men­je­laskan, sebelum hari pelak­sanaan pihaknya telah men­ga­jukan kebu­tuhan alat kese­hatan, mulai dari tabung oksi­gen, selimut, hing­ga ban­tal. Namun, pada hari per­ta­ma seba­gian kebu­tuhan terse­but belum terpenuhi.

Kami sudah men­ga­jukan sejak jauh hari, tapi baru dipenuhi di hari H dan itu pun masih kurang. Tabung oksi­gen seharus­nya dita­m­bah, HT hanya dap­at dua, dan ambu­lance juga sem­pat terk­endala koor­di­nasi,” ungkap­nya. Ia meny­oroti min­im­nya koor­di­nasi dan keterse­di­aan fasil­i­tas yang mere­ka butuhkan.

Kesuli­tan dalam menan­gani maha­siswa  baru yang jatuh sak­it juga men­gala­mi kendala. Sebelum­nya pani­tia telah menye­di­akan pita mer­ah yang berfungsi seba­gai penan­da peser­ta PBAK yang memi­li­ki riway­at penyak­it. Melalui google form, pani­tia menye­di­akan sarana untuk bisa menam­pung data terkait riway­at penyak­it mere­ka. Ada sek­i­tar 300 pita mer­ah telah disi­ap­kan untuk kegiatan PBAK, namun sete­lah dibagikan terny­a­ta pita mer­ah terse­but masih kurang. Ini menye­babkan beber­a­pa maha­siswa tidak bisa teri­den­ti­fikasi oleh tim kese­hatan. “Kan itu sudah dise­di­akan banyak katanya. Cuma, saat dibagikan terny­a­ta tidak men­cukupi semua. Kan kayak dari PI/P katanya cuma asal ngam­bil gitu, jadinya ada yang keba­gian ada yang eng­ga,” ujar Eko.

Misko­mu­nikasi juga men­ja­di kendala uta­ma terkait layanan ambu­lans. Pak Agung, selaku supir ambu­lans merasa tidak mener­i­ma kon­fir­masi  terk­sit butuh­nya ambu­lans tahun ini. “Biasanya kan saya dihubun­gi sama atasan saya. Tapi yang tahun ini gak ada kon­fir­masi sebelum­nya. Akhirnya tiba-tiba dihubun­gi men­dadak, jadi saya stan­by,” terangnya.

Sebelum­nya, kru dimen­si sudah mem­inta kon­fir­masi ulang men­ge­nai ambu­lans kepa­da ket­ua pelak­sana PBAK, tapi tidak mau keti­ka ingin di wawan­cara dan men­gal­ihkan­nya ke pani­tia yang men­gu­rus bagian kesehatan.

Fat­ma seba­gai pani­tia sie kese­hatan mem­berikan klar­i­fikasi. Dia men­gakui adanya kendala dalam per­si­a­pan men­ge­nai ambu­lans. Dia men­je­laskan adanya misko­mu­nikasi antara pihak rek­torat dan supir ambu­lans. “Rek­torat bilangnya iya pakai aja ambu­lansnya, tapi terny­a­ta rek­torat­nya belum bilang ke supir,” ujar Fatma.

Dia juga men­gakui adanya kelala­ian dalam per­suratan untuk pem­in­ja­man alat seper­ti tabung oksi­gen. Terangnya, surat pen­ga­juan anggaran sudah dibu­at, namun tidak bisa ditan­datan­gani oleh wak­il rek­tor kare­na terk­endala den­gan mepet­nya hari ker­ja. “Ketele­do­ran dari pani­tia juga ya, cuma jum’at kemarin itu hari ter­akhir rek­torat ker­ja. Surat­nya sudah dikasih ke per­lengka­pan cuma belum dapet tan­da tan­gan. Jadi gak bisa ngam­bil anggaran untuk itu, soal­nya pin­jam­nya kan ke Lem­ba­ga.” Imbuhnya.

Aki­bat dari kurangnya per­si­a­pan terse­but, tim medis di lapan­gan men­gala­mi kesuli­tan. Eko men­catat bah­wa ada tiga orang yang harus segera diru­juk ke rumah sak­it kare­na alat-alat di klinik di depan kam­pus tidak memadai. “Kemaren ada 3 yang dibawa ke rumah sak­it lang­sung, gak bisa dibawa ke klinik depan soal­nya dari segi alat­nya kurang,” jelasnya.

Selain ketele­do­ran dari pani­tia, kendala lain juga muncul dari para peser­ta PBAK. Supir ambu­lans meny­oroti sulit­nya menghubun­gi kelu­ar­ga maha­siswa yang pingsan. “HP rata-rata di pass­word. Kita kemarin sore pani­tia saya kasih tahu. Wajib men­can­tumkan nomor HP di balik ID card, nomor HP kelu­ar­ga plus ala­mat,” katanya. Ia juga men­gungkap­kan bah­wa banyak maha­siswa tidak jujur men­ge­nai riway­at penyakitnya.

Penulis: Nur Aini Agustin
Reporter: Aina, Vita & Aini
Redak­tur: Musto­fa Ismail