TULUNGAGUNG — “Yang paling saya khawatirkan adalah kekeringan.”
Kalimat itu disampaikan Suryanto, petani Desa Tanggunggunung, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, saat menceritakan perubahan lingkungan yang ia rasakan dalam dua dekade terakhir.
Wilayah perbukitan di selatan Tulungagung yang dahulu dipenuhi hutan kini perlahan berubah menjadi hamparan tanaman jagung dan tebu. Bersamaan dengan itu, sejumlah mata air mulai menghilang dan krisis air saat musim kemarau semakin sering dirasakan warga.
Kondisi tersebut mendorong sebagian petani mulai mengubah pola tanam mereka. Selain jagung, warga kini mulai menanam kopi, alpukat, durian, hingga cengkeh sebagai upaya menjaga cadangan air sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
“Kalau jagung tiga bulan panen lalu habis ditebas. Tapi kopi dan tanaman tahunan bisa jadi tabungan jangka panjang,” kata Suryanto. Selasa (19/5/2026).
Ia mengatakan penggundulan hutan besar-besaran sejak akhir 1990-an menjadi titik awal perubahan kondisi lingkungan di kawasan Tanggunggunung. Menurut dia, hilangnya pohon-pohon besar membuat banyak sumber mata air tidak lagi mampu bertahan saat musim kemarau panjang.
“Dulu hutan masih rapat, udara sejuk, dan mata air masih banyak. Sekarang hutan tinggal kenangan,” ujarnya.
Meski begitu, Suryanto menilai kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Minat petani terhadap tanaman produktif, terutama kopi, meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga akhir Mei 2026, permintaan bibit kopi dari kelompok tani di wilayah Tanggunggunung disebut mencapai sekitar 22.000 batang. Secara keseluruhan, jumlah bibit tanaman produktif yang mulai dikembangkan warga diperkirakan hampir mencapai 120.000 batang.
Menurut Suryanto, kopi menjadi tanaman yang paling diminati karena dinilai lebih mudah dirawat dan mulai menghasilkan dalam waktu relatif singkat dibanding tanaman tahunan lain seperti alpukat atau durian.
“Sekarang petani mulai melihat hasil nyata dari kopi,” katanya.
Ia menyebut lonjakan minat petani terhadap tanaman produktif dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari keberhasilan petani yang lebih dulu menanam kopi, program dari Dinas Pertanian, hingga rencana bantuan bibit dari Pemerintah Kabupaten Tulungagung.
“Pemerintah mulai melirik dan memfasilitasi,” ujarnya.
Saat ini sebagian tanaman durian di wilayah Tanggunggunung juga mulai memasuki masa panen. Sementara sebagian besar tanaman kopi milik petani sudah dipanen dalam beberapa pekan terakhir.
Di tengah perubahan pola tanam tersebut, kondisi wilayah Tanggunggunung saat ini masih didominasi lahan jagung yang baru memasuki masa panen. Hamparan perbukitan terlihat panas dan gersang akibat minimnya tutupan vegetasi setelah panen berlangsung.
“Panas banget, gersang karena jagung sedang panen. Tapi untuk air Alhamdulillah masih aman,” kata Suryanto.
Asisten Perhutani (Asper) sekaligus Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Campurdarat, Nur Faiz Ramdhani, mengatakan kondisi kawasan hutan di wilayah selatan Tanggunggunung sebenarnya masih relatif baik. Namun tekanan terhadap kawasan hutan terus meningkat akibat pembangunan dan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Menurut dia, sebagian kawasan hutan terdampak pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS). Selain itu, tekanan juga muncul dari perluasan lahan pertanian semusim seperti jagung dan tebu.
“Kadang tanaman jagungnya dirawat, tapi tanaman pohonnya tidak dirawat. Akhirnya yang tumbuh jadi ladang jagung semua sejauh mata memandang,” kata Faiz.
Ia menjelaskan perubahan paling terasa dalam 10 hingga 20 tahun terakhir terjadi di wilayah selatan Tulungagung. Kawasan yang sebelumnya berupa hutan lebat perlahan berubah menjadi area pertanian terbuka seiring berkembangnya akses jalan dan aktivitas masyarakat.
“Tanaman jagung dan tebu makin banyak, tanaman hutannya semakin menurun,” ujarnya.
Meski demikian, Faiz menyebut kondisi mata air utama di kawasan tersebut masih relatif aman. Salah satu sumber air terbesar, yakni Sumber Songo di Tanggunggunung, masih berfungsi dan menjadi tumpuan kebutuhan air bersih warga di sejumlah kecamatan.
“Sejauh ini masih ada sekitar delapan titik mata air yang bertahan dan masih dirawat bersama masyarakat,” katanya.
Menurut Faiz, pola agroforestri atau kombinasi tanaman pertanian dan pohon produksi menjadi solusi paling realistis untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus ekonomi warga.
Perhutani saat ini mulai mendorong pola tanam campuran dengan memperlebar jarak tanaman kehutanan agar tetap bisa dimanfaatkan petani untuk menanam jagung atau tanaman pangan lainnya.
Selain itu, tanaman produktif seperti kopi, alpukat, durian, hingga kluwek dinilai lebih cocok dikembangkan di wilayah perbukitan karena memiliki nilai ekonomi tanpa harus menebang pohonnya.
“Kalau masyarakat paham fungsi pohon dan merasa mendapat manfaat ekonomi, biasanya mereka akan menjaga hutannya sendiri,” ujar Faiz.
Meski mulai berkembang, perubahan pola tanam di Tanggunggunung belum sepenuhnya berjalan mudah. Sebagian petani masih bergantung pada jagung karena dianggap lebih cepat menghasilkan dan menjadi sumber njir penghasilan utama keluarga.
Namun, Suryanto percaya perubahan perlahan mulai terjadi. Ia berharap dukungan pemerintah dan kesadaran masyarakat terus meningkat agar kawasan perbukitan Tanggunggunung tidak semakin kehilangan sumber airnya.
“Kalau alam dijaga, petani juga akan dijaga,” katanya.
Penulis : Nia Nurmaya
Reporter : Lulu, Alifia
Redaktur : Fadli