Perdana di Tulungagung, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Akidah Filsafat Islam (AFI) putarkan film Tambang Emas Ra Ritek, film ini masuk ke dalam nominasi film dokumenter panjang terbaik versi Festival Film Indonesia. Film tersebut menceritakan penolakan masyarakat Trenggalek atas eksploitasi alam lewat pertambangan emas yang berdampak pada aktivitas mereka sehari-hari.
Nonton bareng berlokasi di warung kopi Gading Gajah Desa Plosokandang pada 12 November 2025 yang dihadiri sekitar 30 penonton. Film ini diputar pukul 19.00 WIB dan dilanjut dengan diskusi film hingga pukul 22.00 WIB. Agenda ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran ekologi mahasiswa lewat percikan semangat penolakan masyarakat Trenggalek.
“Dari pribadi saya untuk awal kali membawa film ini ya lagi-lagi untuk menggugah kesadaran, bahwa ada hal penting yang harus kita perjuangkan entah hal yang termarjinalkan, seperti kelompok masyarakat yang ada di Trenggalek” ungkap Fandhil selaku Ketua HMPS AFI.
Diskusi film ini menghadirkan dua pembicara dari alumni AFI, yaitu M. Fariz Nur Hamid dan Cak Jeki. Salah satu pembicara, Fariz, pernah melakukan penelitian soal tambang di Trenggalek. Penelitian tersebut berjudul Dinamika Gerakan Sosial Penolakan Proyek Tambang di Trenggalek.
Dalam pemaparannya, fariz menilai film ini bukan hanya dokumentasi, tetapi juga kritik atas kampanye good mining practice dan arsip sejarah perlawanan masyarakat. Kesadaran ekologi yang dibangun menjelaskan bahwa tambang emas bukan soal profit ekonomi saja, melainkan juga soal kerusakan yang tidak akan bisa dikembalikan.
“Dengan adanya kampanye good mining practice itu ya enggak bisa buat legitimasi untuk perusakan alam, eksploitasi alam yang telah terjadi enggak bakal bisa mengembalikan alamnya.“ Terang Fariz.
Fariz juga menjelaskan bahwa masyarakat Trenggalek memiliki kesadaran ekologis yang tinggi dibandingkan wilayah lain. Mereka mengerti tentang dampak jangka Panjang adanya tambang emas yang menyerang ke dalam mata pencaharian mereka sehari-hari yang berdampingan dengan alam dari sektor pertainan, perkebunan sampai perikanan.
“Yang membedakan dengan yang ada di Trenggalek Itu masyarakatnya sangat aware dengan kelestarian alam mereka. Sedangkan di Mojokerto itu enggak, mereka menerima dengan baik praktik pertambangan. Mereka berfikir hasil tambang memang buat kaya ndadak tapi pas habis ya miskin ndadak ya mereka kehilangan usaha gitu-gitu, Perkebunan dan sebagainya.” Paparnya.
Sementara itu, mengutip dari Kabar Trenggalek, Alvina N.A sutradara dari Tambang Emas Ra Ritek menginginkan film ini sebagai sarana edukasi Masyarakat untuk peduli pada lingkungan dari eksploiasi dan sebagai kampanye penolakan tambang emas di Trenggalek.
“Kami berharap film ini bisa jadi pemantik bagi warga bahwa mereka bisa melindungi lingkungan dari ancaman tambang bahkan sebelum kegiatan eksploitasi dimulai. Film dokumenter juga bisa menjangkau lebih banyak audiens untuk kampanye advokasi penolakan tambang emas di Trenggalek,” ungkap Vina.
Lebih lanjut, Vina menjelaskan bahwa judul Tambang Emas Ra Ritek diambil dari bahasa Jawa yang berarti “tidak usah”, sebuah slogan khas masyarakat Trenggalek dalam menolak tambang emas.
Penulis: Haidar Noufal Alifi
Redaktur: Rokhim Mustofa Ismail