By using our website, you agree to the use of our cookies.

Kategori: Sastra

Cerpen

Dua Orang yang Lupa Mengenal 

Kaca pec­ah di jen­dela sana dan jen­dela sini. Pin­tu tetap terkun­ci rap­at. Udara anyir di dalam hanya bisa kelu­ar melalui jen­dela yang kaca-kacanya pec­ah itu. Semua penghu­ni rumah dalam keadaan tak ter­lalu baik, baik posisi maupun kese­hatan­nya. Dua…
Puisi

Surga Kelam 

Sem­bu­ran hitam men­ja­di mimpi buruk anak cucu kami Bukan lagi hijau ranau yang menye­limu­ti sela­put sayu mata Bau anyir dan pekat­nya tanah kelam seba­gai tan­da sejarah   Bera­­tus-ratus pene­duh kehidu­pan tengge­lam dalam kepekatan­nya Kehidu­pan bukan lagi bisa dikatakan hidup Rangka…

Cerpen

Cicak Buntung 

edung putih. Ser­ba putih dan ter­atur, rapi. Lan­tai mengk­i­lat, per­abot mewah, hala­man luas, licin. Seti­daknya itu yang kuli­hat dari balik jen­dela, yang nam­pak begi­tu indah. Aku mere­nung sendiri, meli­hat sek­i­tar yang men­jadikanku liyan. Uku­ran jen­dela tem­patku memelo­tot hampir…

Cerpen

Tumbal 

okan menumpahkan susu di samp­ing peti­lasan Mbah Sumede. Bibirnya komat-kamit lak­sana dukun. Dia berusa­ha mer­a­palkan mantra hafalan­nya sep­a­n­jang ming­gu. “Biarkan­lah saya menang,” katanya. “Jika pun benar, akan ada banyak sesem­ba­han Eyang.” Menden­gar per­mintaan­nya, Mawut mem­inc­ingkan matanya yang kebas sebelah.…

Cerpen

Watu Murup 

(Simo, Kedung­waru, Tulun­ga­gung) abut meng­gan­tung di gunung. Men­tari meng­in­tip di timur. Para lela­ki men­gangkat bahu ̶  berde­cak kagum pada peman­dan­gan itu ̶ lalu menyian­gi sawah den­gan kegem­bi­raan. Telun­juk mere­ka menun­juk ham­paran anuger­ah yang menyala di depan mata. Padi…

Puisi

Bela Saja 

Tuhan mengab­ulkan secara ele­gan Begi­tu juga mengam­bil secara ele­gan Pan­tas, memang Tuhan tak per­lu dibela Jika kita mem­bela, kita mengk­erdilkan-Nya “Tuhan tak per­lu di bela” Begi­tu sati­ran Gus Dur Memang Tuhan maha segalanya Hing­ga Tuhan tak butuh sia­pa-sia­pa Dia telah…