By using our website, you agree to the use of our cookies.

Kategori: Sastra

Cerpen

Beruntung 

Deru ken­cang kicau burung gere­ja mem­ban­gunkan tidur seo­rang gadis. Matanya mulai ter­bu­ka dan duduk seje­nak sebelum ban­gun sem­bari menen­gok jam dind­ing. Ia ber­jalan menu­ju rak buku di depan pin­tu, mengam­bil salah satu buku lalu mem­ba­canya. Getar gawai mengalihkan…

Puisi

Ketidaksukaan yang Dibiasakan 

Keti­ka fajar menam­pakkan diri, aku merias diri Keti­ka Surya ber­jalan mer­an­jak, ker­tas kutulis den­gan ran­cak Keti­ka sang panas lep­as dari suatu ikat, aku pulang untuk berangkat Keti­ka gema tak­birku mengge­ma, aku mulai mem­ba­suh resah gulana Keti­ka itu rembulan…

Puisi

Di Ujung Senja Tanah Papua 

Nam­pak, kaki-kaki kecil melukis jejak pada buti­ran-buti­ran kristal putih pasir. Melu­ap panas pada suhu sejengkal tan­gan di atas tudung Menampik sen­gat­nya, merekah mer­ah pada wajah ibu per­ti­wi Men­gayunkan rona sen­ja, di seti­ap helai daun-daun yang gugur Menulis bah­wa “Aku Bangga…

Puisi

Dimana Negeri Agraris? 

Malamku berpacu don­geng kan­cil men­curi men­timun Kakekku yang bungkuk bernarasi den­gan air liur yang ser­ing mun­crat ke lan­git-lan­git Katanya sawah-ladan­gnya luas, musim keti­ga men­timunnya besar-besar musim penghu­jan padinya pun demikian Tak hay­al jika kan­­cil-kan­­cil turun gunung

Cerpen

Harapan pada Sebuah Nama 

Semen­jak hari itu, aku mem­ben­ci buku. Jil­i­dan berlem­bar ker­tas mem­bu­atku kehi­lan­gan eloknya semes­ta. Pan­dan­ganku mem­baur bersama kabut dan embun pagi hari. Saat itu­lah aku menyadari aku akan mati. Aku buta huruf tatkala tulisan Bu Muyas bak Font Calibri…

Cerpen

Khayalan yang menua dan mati di ujung cerita 

Perem­puan renta yang duduk di depan pin­tu sebuah min­i­mar­ket di Jalan Kam­bo­ja kini berusa­ha mening­galan tem­pat­nya. Langkah kakinya yang gemetar dipak­sanya berdiri. Ia seper­ti sebatang ran­du lapuk yang memak­sa dirinya tetap tegak sekalipun penebang kayu berusa­ha menebas­nya, digunakan…

Cerpen

Manifesto Cup-cake 

Loyang-loyang kon­glom­erasi ham­pir penuh. Tepung terigu, tepung beras, telur, gula pasir, mente­ga, dan bahan lain telah ter­cam­pur rata. Mix­er baru itu berhasil, melumatkan kege­lisa­han orang-orang atas keti­dakadi­lan yang ter­ja­di. Lele­han cok­lat juga mem­bu­at piki­ran mere­ka ter­al­ihkan lebih cepat, melu­pakan keke­ce­waan di…

Puisi

Penggenggam Surga 

Dia yang menggenggam sur­ga Tersenyum kecut menyung­ging kepuasan pal­su Dan kala fajar merekah.… Berge­gas menung­gui tungku Beran­jak dari mimpi tuk siap­kan sug­uhan saban pagi   Dia yang menggenggam sur­ga, ter­li­hat kurus Ter­sir­at sebuah jer­it yang tak teru­cap mulus Darinya.… Mes­ki cikal…

Cerpen

Pembantu 

Sara­pan kali ini tidak terasa nikmat. Sebab adikku yang memasak. Mungkin ini adalah kali per­ta­ma ia mema­su­ki dapur. Mem­bu­at kami sekelu­ar­ga men­ja­di kelin­ci per­cobaan masakan­nya yang han­cur. Dag­ingnya dipo­tong besar-besar, alot dan keras. Bum­bun­ya apala­gi, ter­lalu banyak saos.