Buku adalah Candu
Sesibak halaman demi halaman Menuntun jemari tuk mengayun syahdu Membuka mata ‘tuk memetik kata demi kata Perlahan mengisi corong pengetahuan
Akhir Bulan Berdarah
Satu Oktober Kebangkitan Indonesia Dari masa duka Darah di mana-mana Satu Oktober Wujud kebangkitan Indonesia Dari masa kelam Udara yang kacau balau
Tertampar Angin Rindu
Aura gelap begitu mencekam Udara dingin semakin menusuk tulang Sunyi sepi tanpa haluan Hanya deru nafas yang mengiang Daku kini tertampar angin rindu
Manusia Satu Karsa
Apakah kau tidak tahu Tuhanmu Maha Bisa? Apakah kau lupa Tuhanmu maha mahir menciptakan karya Apakah iya, Tuhanmu hanya menciptakan makhluk dengan satu rasa Apakah iya, Tuhanmu hanya mampu menciptakan mahkluk dengan satu karsa
Pangeran dari Desa Tetangga
Surya merangkak perlahan menuju singgasana Awan membentangkan jalannya Langit melapangkan tempatnya Burung mengalunkan deringnya
Ketidaksukaan yang Dibiasakan
Ketika fajar menampakkan diri, aku merias diri Ketika Surya berjalan meranjak, kertas kutulis dengan rancak Ketika sang panas lepas dari suatu ikat, aku pulang untuk berangkat Ketika gema takbirku menggema, aku mulai membasuh resah gulana Ketika itu rembulan…
Di Ujung Senja Tanah Papua
Nampak, kaki-kaki kecil melukis jejak pada butiran-butiran kristal putih pasir. Meluap panas pada suhu sejengkal tangan di atas tudung Menampik sengatnya, merekah merah pada wajah ibu pertiwi Mengayunkan rona senja, di setiap helai daun-daun yang gugur Menulis bahwa “Aku Bangga…
Dimana Negeri Agraris?
Malamku berpacu dongeng kancil mencuri mentimun Kakekku yang bungkuk bernarasi dengan air liur yang sering muncrat ke langit-langit Katanya sawah-ladangnya luas, musim ketiga mentimunnya besar-besar musim penghujan padinya pun demikian Tak hayal jika kancil-kancil turun gunung