Pewarta; Lubang dan Kutu
Ada yang mengabarkan pada ku semalam; Hujan bulan Juni tak lebih deras daripada penghujung Desember Tak seperti romansa cerita Turki dan seorang Sufi; Satu lubang tambang adalah warisan Dan lubang tambang tak lebih baik dari seekor kutu Firaun
Putri Raja
Karena sepatu kaca itu, ia berani menjual gelas kosongGelas yang disiram ke pohon lapuk nan rapuhDemi rasa kasihan yang katanya adaAku mengutuk Sang RajaNamun aku tak kuasa mencerca pada si Pohon Tua
Semarak Alunan Merdu
Alunan nada beradu indah Menyapa rasa melawan gundah Tentram, tenang, pun teduh
Sunyi dalam Pandemi
Pandemi kembali menyelimuti negeri Hiruk pikuk kehidupan tertelan sekali lagi Hingga hari suci telah menampakkan diri Mengingatkan tuk medekat pada Hyang Widhi
Ini Tanah Kami
Di era jabatan tuan ini Kami kembali menghadapi penderitaan tanpa akhir Kami harus melawan takdir yang kejam
Nyanyian Sunyi
Senyap Terkadang juga bising Akal dan nurani tak jarang menjerit Langkah gontai menyusur setapak Gonggongan tak bertuan masuk pendengaran Merusak aliran syaraf yang coba ditenangkan Gemuruh tak berkesudahan Menggema di setiap sudut kehampaan Mengisyaratkan dakwa tak berdasar Tak…
Merokok Bersama Pramodya
Pram datang dengan rokok di tangan Seolah mengisyaratkan untuk menulis baik dalam kegentingan atau kelonggaran
Nisbi, Sebuah Nilai Baru Semangat Zaman
Sore itu, meneduhkan setiap insan untuk duduk dan berdiskusi di halaman rumah komunitas sastra. Setiap napas yang hembus ditempat itu adalah napas kolektif sesungguhnya. Dengan kopi hitam, lantunan puisi dari salah satu mahasiswa mampu mengubur sunyi.
Arsip Puisi Pelatihan Sastra Alternatif (Plaster) LPM DIMeNSI 2019
Buku ini adalah arsip dari penugasan dalam kegiatan rutin LPM DIMeNSI tiap tahun; Pelatihan Sastra Alternatif (Plaster). Isi di dalam buku puisi ini berupa hasil scan tulis tangan tiap-tiap orang. Artinya, akan menarik dan lebih unik daripada diketik. Sekarang,…