By using our website, you agree to the use of our cookies.

Kategori: Cerpen

Cerpen

Kisah Horor di Kampus 

Pohon-pohon ting­gi yang ia tak tau namanya itu selalu mem­bu­at­nya merind­ing, teruta­ma saat men­je­lang petang –orang roman­tis menye­but­nya sen­ja. Sebab ia rasakan wak­tu tak lagi maju, wak­tu stag­nan seo­lah akan menusuk sia­pa saja den­gan din­gin dan ken­ger­ian. Angin…

Cerpen

Mimpi dari Tidur 

Di kota tak bertu­an ini segalanya bisa ter­ja­di. Tak ada yang bakal men­gatur kau buang ken­tut dimana­pun dan semua tem­pat adalah Smok­ing Area. Tapi belakan­gan hal-hal ber­jalan san­gat ter­atur; orang-orang tert­ib antre, buang sam­pah pada tem­pat­nya dari sumbangan…

Cerpen

Ariman 

Udara mencekik kerongkon­gan­nya. Tem­pat persem­bun­yian gadis itu seper­ti ner­a­ka. “Brengsek!” umpat Pro­fe­sor. Tabung reak­si mele­tup­kan gelem­bung jing­ga dan meny­ibakkan aro­ma busuk. Lalu lela­ki itu meng­gan­ti­nya den­gan tabung reak­si yang lain. Ania menga­mati den­gan gugup. Celah lemari mem­per­li­hatkan bagaimana…

Cerpen

Lari dari ‘Bajing’ 

Aku san­gat mem­ben­ci kebon­gan dan kepu­ra-puraan, kau tau?” ucap Apta kepa­da lela­ki di depan­nya. Lela­ki itu tak jadi men­em­pelkan bibirnya ke ping­gi­ran cangkir. Dile­takkan cangkir itu. Suara ben­tu­ran den­gan alas­nya tengge­lam dalam ger­am. Kopi hitam tumpah sedik­it. “Apa…

Cerpen

Kakus 

Sore itu den­gan raut muka temonyo Zul­fikar duduk mer­apetkan pung­gungnya di tepi­an meja ker­ja. Suasana tidak ter­lalu gelap, men­dung nyingkir alus meli­hat Zul­fikar murung. Sebelum­nya ia telah beru­cap pada kawan-kawan di sampingnya.

Cerpen

Dua Orang yang Lupa Mengenal 

Kaca pec­ah di jen­dela sana dan jen­dela sini. Pin­tu tetap terkun­ci rap­at. Udara anyir di dalam hanya bisa kelu­ar melalui jen­dela yang kaca-kacanya pec­ah itu. Semua penghu­ni rumah dalam keadaan tak ter­lalu baik, baik posisi maupun kese­hatan­nya. Dua…
Cerpen

Cicak Buntung 

edung putih. Ser­ba putih dan ter­atur, rapi. Lan­tai mengk­i­lat, per­abot mewah, hala­man luas, licin. Seti­daknya itu yang kuli­hat dari balik jen­dela, yang nam­pak begi­tu indah. Aku mere­nung sendiri, meli­hat sek­i­tar yang men­jadikanku liyan. Uku­ran jen­dela tem­patku memelo­tot hampir…

Cerpen

Tumbal 

okan menumpahkan susu di samp­ing peti­lasan Mbah Sumede. Bibirnya komat-kamit lak­sana dukun. Dia berusa­ha mer­a­palkan mantra hafalan­nya sep­a­n­jang ming­gu. “Biarkan­lah saya menang,” katanya. “Jika pun benar, akan ada banyak sesem­ba­han Eyang.” Menden­gar per­mintaan­nya, Mawut mem­inc­ingkan matanya yang kebas sebelah.…