close
Opini

Ketika Senior Mendiskriminasi, Lakukan Hal Ini

123505387_273

Bagaimana rasanya sebagai junior? Pasti serba salah dan terkekang. Tapi, apa jadinya jika junior menganggap senior melakukan diskriminasi? Senior yang tampak membedakan junior yang satu dengan yang lain?

Meskipun demikian, diskriminasi mungkin tidak sesungguhnya terjadi, artinya senior melakukan kesalahan yang terlihat seperti diskriminasi (sengaja ataupun tidak). Senior adalah manusia dan tetap manusia. Ingat! Bisa jadi senior tidak melakukan apapun, tapi junior berpikiran buruk dan memunculkan anggapan diskriminasi.
Nah, artikel ini akan membahas apa yang sebaiknya dilakukan ketika ‘kau menganggap senior melakukan diskriminasi’ padamu.

Tatap Dirinya

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menatap senior yang menyakiti perasaanmu (ingat, diskriminasi itu menyakitkan). Lihatlah dia, amati tingkah lakunya. Apakah menurutmu dia layak memiliki karakter terkutuk dan melakukan diskriminasi padamu? Soalnya kau bisa saja melakukan kesalahan karena kau terlalu sensitif dan emosional sehingga memunculkan pikiran buruk. Oleh karena itu pastikan dirimu tidak sedang dipengaruhi obat-obatan dan pelet pembenci. Ingat, Pramenstrual Syndrome adalah salah satu faktor naiknya level kesensitifan wanita dan hal kecil terlihat jumbo ketika wanita di fase ini.

Ingatlah Kesalahanmu

Kembalilah ke masa lalu dan catat apa kesalahanmu. Mungkin kau menyakiti perasaannya. Jadi, mulailah melakukan hal yang menurutmu baik dan tinggalkan hal yang buruk.
Yakinlah, Kau Memiliki Kekurangan

Bercerminlah dan lihat dirimu. Yakinlah kau memiliki jutaan kekurangan. Lalu tanamkan pemikiran bahwa setiap junior memerlukan senior dalam memperbaiki kualitas dan kapasitas. Hal ini berarti kau masih membutuhkan seniormu.

Minum

Rasakan air yang melalui kerongkongan dan masuk ke lambung. Air meningkatkan konsentrasi sebagaimana dijelaskan Shanty Olivia F Jasirwan anggota Divisi Research and Scientific Indonesian Hydration Working Group.

Buka Pikiranmu

Selanjutnya buka pikiran dan sugestikan, “Tidak ada diskriminasi yang terjadi padamu.”
Ingat, hidupmu terlalu indah untuk memikirkan dan membenci seniormu. Jangan buang waktumu untuk meratapi diskriminasi yang sedang kau rasakan.

Bertindak

Lakukan hal yang menurutmu harus dilakukan. Bertindaklah sesuai kemampuan. Kejar mimpimu dan berusahalah sekeras mungkin. Abaikan mereka yang membencimu. Cobalah menjalin hubungan dengan siapapun termasuk senior yang kau anggap mendiskrimasi.

Selalu berpikir positif

Selalu berpikir positif di setiap kesempatan. Kemudian temukan kalimat di hatimu, “Ternyata semua itu hanya anggapanku semata. Senior tidak pernah mendiskriminasiku.”

Demikianlah hal yang harus dilakukan ketika kau terjebak dalam permasalahan ini. Tapi apabila diskriminasi terus berlanjut dan bukan anggapanmu semata, ceritakan permasalahnmu pada orang yang kamu percaya dan temukan pemecahan masalah bersama. Begitu. []

baca baca
Cangkruk

Di Balik Kericuhan PBAK 2017

db1e0c8c-62fb-41ad-9df5-4e67c622d18a
Dimensipers.com, 15/08. Pada hari kedua PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, pagi buta satu-persatu Mahasiswa Baru (maba) mulai berdatangan.
baca baca
Belajar

Menguak Makna Atribut PBAK 2017

20799870_1392478534120605_834300949829518842_n
Dimensipers.com, 14/08. Istilah OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik Kemahasiswaan) kini telah berganti nama menjadi PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan). Sekilas perubahan nama OPAK menjadi PBAK
baca baca
Cerpen

Ariman (3)

105 Hipster girl character with hipster elements and icons

Malam ini aku menakuti wanita yang berjalan seorang diri. Kemudian aku menangkap beberapa pemuda yang mabuk. Wujudku ̶ Ariman ̶ memberi kekuatan yang membuatku sebagai manusia super atau sebaliknya, monster.

Malam ini aku mengawasi Romafi. Kudengar dia orang terakhir yang ditemui Wiratma ̶ setidaknya itulah yang dikatakan Ania. Lelaki putih dan berkumis itu, acapkala adalah rivalku. Aku cukup memahami karakter lelaki berintegritas tersebut. Dia adalah lelaki berkompetensi, tapi Wiratma menjebaknya di jalan yang mementingkan dirinya sendiri.

Aku memperkirakan sekarang adalah pukul satu. Kaki dan tanganku cekatan memanjat mahoni. Rumah ini melebar dan beberapa patung diletakkan di sudut. Dindingnya diselimuti lumut dan mawar membingkai sempurna. Aku melompat. Mencongkel jendela dan masuk perlahan.

Pupil mataku melebar. Ruangan gelap, pengap dan tercium aroma busuk. Aku melangkah ke sisi yang lain. Lelaki itu berbalik. Dia memeluk bantal dan tidur. Aku segera merambat di dinding dan berusaha menemukan petunjuk.

“Eureka!” bisikku. Aku mengambil buku catatan yang terlihat berbeda. Kakiku menempel di tembok sementara kedua tanganku membaca halaman di buku. “Ya, ini adalah buku yang diceritakan Ania.”

Kemudian mataku menyipit ketika kulihat kunci yang dimiliki Wiratma. Aku berusaha meraih benda itu, tapi sesuatu bergerak dan seketika aliran listrik menyengat tubuhku. Romafi mendorongku ke lantai.

“Monster,” cecarnya. Dia kembali menyetrumku dengan alat berbentuk pensil.

“Brengsek,” aku mengumpat. Tubuhku terasa lemas. Bahkan, aku tidak merasakan tangan dan kakiku.
Romafi berkedut. Dia takjub melihat wujudku. “Kau adalah makhluk yang memiliki penyimpangan DNA,” dia memberi informasi yang kusadari seminggu yang lalu. Romafi menenteng tali dan mengikat diriku.

Aku merintih.

“Bangsat!” Lelaki itu mengumpat. Kau telah menghancurkan dan mengambil penemuan Profesor,” dia menghardik. Lalu, “Untunglah Profesor telah memperingatkanku akan kedatanganmu.” Kalimat ini terdengar memilukan.

Aku termangu. Butuh beberapa menit membuatkan tersadar. Lalu aku menunduk dan menciptakan raut wajah berbeda ̶ aku harap dia tidak menyadari siapa aku.

“Kenapa kau membuat raut wajah semacam itu?” ocehnya. Romafi menatapku dengan jijik.
Kemudian aku mengganti raut wajahku. Kali ini alisku melekuk dan kutunjukkan semacam seringai.

“Apa yang kau lakukan, Monster?” Dia manatapku sembari menyorotku dengan senter. Lalu terdapat keheningan sesaat, seolah dia menggali rahasia terdalam pikiranku. Kemudian dia ragu dan berkata, “Apakah kau Arif?” Akhirnya Romafi menyebut namaku.
Saat itulah aku menyadari kebenaran perkataan Ania, “lekuk wajah seseorang tetaplah sama. Tulang tetaplah tulang dan tengkorak tidaklah tumbuh ketika dewasa.”
Sial!

Aku mengangkat tangan dan kakiku. Kekuatanku perlahan kembali. Tali ditubuhku terputus. Romafi berusaha menyerang dengan senjata yang menyerupai sebuah pensil.

Aku menghindar. “Gagal!” ujarku. “Sayang sekali, kau tamat.” Tanganku mencengkeram lehernya, sementara kakiku menghantam senjata tersebut. Tubuhku mendorong lelaki malang itu ke tembok. Dia memekik, tapi taringku menunjukkan dia akan mati jika dia melakukan hal itu.

Lalu seseorang menggedor pintu. Kami saling menatap dalam pikiran kalut.

“Apakah kau baik, Rom?” tanya sebuah suara di sisi ruangan.

Romafi menatapku sesaat, lalu bergegas menjawab, “Ya, aku baik.” Dia menyadari lirikan mataku. “Aku mohon pergilah, Bu!” tambahnya.
“Kau yakin?” suara wanita itu kembali bertanya.
“Ya,” balasnya.
Kemudian, suara tersebut berujar, “Profesor sedang menunggumu di depan.”

*****

Silfi memikirkan kepergian Ariman. Dia menatap dirinya di cermin. “Aku mencintainya. Apapun wujud yang dia miliki.” Gadis itu melonggarkan piyama dan merebah.

Tangan mungilnya mencengkeram botol yang terisi setengah. Cairan kuning yang mengisi dan berdiam di dalamnya adalah penyebab penyimpangan DNA.

“Hanya setetes dan manusia berubah menjadi seekor monster mengerikan,” tuturnya. Silfi menyadari bagaimana cairan itu memberi kekuatan tak masuk akal di jangka waktu yang berbeda. “Cairan ini adalah kutukan,” imbuhnya dalam kegelisahan.

Pikirannya terus meliar. Wiratma telah berusaha menghasilkan cairan yang sama, tapi dia hanya menghasilkan cairan jingga dan berbeda. Orang itu adalah pembuat cairan terkutuk dan tak mampu membuatnya kembali.

Silfi merasakan dia berdiri di sisi yang rapuh. “Sekarang yang kubutuhkan adalah informasi mengenai cairan ini,” deliknya. Sesaat dia berpikir apakah sebaiknya dia membuang dan membuat Arif melupakan cairan yang membuatnya sebagai Ariman. Tapi lelaki itu mempercayainya sebagai penjaga.

Silfi membiarkan kelopak menelan matanya. Lalu ponselnya berdering, “Halo,” dia mengangkat panggilan tersebut.

“Hai, Sil. Aku butuh bantuanmu,” terang Arif di tempat yang lain.

BERSAMBUNG

baca baca
Cerpen

Ariman (2)

105 Hipster girl character with hipster elements and icons
Romafi mengangkat ponsel dan tercenung. Di seberang, Profesor Wiratma melambai sembari berlari padanya. Lampu jalan berkelip aneh ketika dia melaluinya. Romafi memikirkan apa yang telah
baca baca
Cerpen

Kisah Horor di Kampus

woods1
Pohon-pohon tinggi yang ia tak tau namanya itu selalu membuatnya merinding, terutama saat menjelang petang –orang romantis menyebutnya senja. Sebab ia rasakan waktu tak lagi
baca baca
1 23 24 25 26 27 34
Page 25 of 34