close
Opini

Jangan Biarkan Sedikit Orang Menjadi Keren Karena Buku

18033403_1535032493175236_1433897543762187996_n

Sudah jelas bahwa minat baca masyarakat memang minim apalagi mahasiswa. Saya tidak mau bermuluk ria menjelaskan dimana urutan minat baca masyarakat Indonesia. Saya yakin kita bisa mawas diri dengan melihat ke cermin pada wajah kita sendiri-sendiri. Membaca masih menjadi hantu modern yang menakutkan. Jangankan membaca, saya yakin membeli bukupun kita jarang (sekali). Sekalipun beli buku saya yakin buku-buku itu baru dibaca setelah mahasiswa lulus. Pengangguran pascalulus menjadikan seseorang punya waktu berlebih untuk membaca. Eh……
Setidaknya saya mau ikut berbela sungkawa atas matinya minat baca mahasiswa ini. Bela sungkawa mendalam, sebab nyatanya tidak ada mahasiswa yang benar-benar suka membaca dan belajar. Entah karena kemalasan atau faktor eksternal lainnya banyaknya mahasiswa yang jarang baca bukanlah hoax.

Mereka lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain-main dengan gawainya bahkan traveling ke tempat-tempat keren. Saya rasa ini semua merupakan serangkaian upacara berkembangnya gawai, tempat wisata, tren pakaian, dan lain-lain. Masyarakat kita digiring menuju hal-hal berbau kekinian untuk menanggalkan banyak budaya termasuk budaya baca. Selain itu ketidakmampuan lepas dari media sosial merupakan penyakit turun temurun yang mulai menyebar. Mahasiswa sekarang lebih panik ketika ketinggalan charger telepon pintar mereka ketimbang ketinggalan buku. Bukankah begitu??…..

Gawai, berkembangnya gawai menjadi magnet kuat yang bahkan tidak bisa dilepaskan dari jemari mahasiswa. Mahasiswa cenderung menghabiskan waktu mereka untuk melotot didepan gawai. Sebagaimana yang biasa terjadi didalam kelas sekalipun, mahasiswa lebih tertarik pada gawai daripada diskusi. Ini merupakan perubahan zaman yang tidak bisa dihindari sekalipun oleh mahasiswa militan yang getol membaca. Saya yakin dirinya akan menyingkirkan gawai beberapa meter darinya untuk meluangkan waktu dan membaca.

Tepatnya 15 tahun yang lalu di hari yang sama yaitu 17 Mei dirayakan sebagai Hari Buku Nasional. Namun disamping perayaan ini mengikuti pula matinya semangat baca khususnya dalam dunia pendidikan. Seringkali saya jumpai justru mereka-mereka yang tidak menempuh pendidikan tinggilah yang malah getol mempertahankan buku dan budaya baca. Perlu kita sayangkan adalah sudah tidak ada lagi geliat literasi yang tumbuh dalam diri mahasiswa. Padahal mahasiswa merupakan tonggak utama sebagai generasi muda yang melestarikan semangat baca. Kita sepertinya sudah tersihir dengan zona nyaman yang membuat kita enggan membaca.

Padahal perayaan hari ini merupakan wujud perhatian pemerintah akan rendahnya minat baca masyarakat kita. Namun setelah belasan tahun Hari Buku Nasional ini digaungkan, kondisi masyarakat kita (masih) sama. Bahkan dalam dunia pendidikan sekalipun masih jarang yang melek literasi. Dapatlah kita hitung dengan jari berapa orang yang memang mencintai dan membaca buku.

Perayaan hari buku ini masih sebatas pajangan buku pada rak-rak buku dirumah. Meskipun sudah ada (pula) perpustakaan keliling nyatanya minat baca masih juga dekaden. Saya kira ketakutan akan buku dan membaca ini memang menjadi momok menyeramkan bagi generasi kita. Belum ada solusi pragmatis yang dapat mengubah kebiasaan buruk ini. Sekalipun saya, anda atau sudah banyak orang menyuarakan semangat membaca dan mencintai buku.

Nyatanya memang semangat membaca ini masih mitos dalam sejarah negara kita ini. Kalau anda mau memecahkan mitos itu, setidaknya anda harus mulai memberi contoh membaca buku. Jika tidak kita lakukan maka membaca buku akan menjadi kebiasaan langka. Hal itu berarti akan segera muncul mitos baru bahwa mereka yang membaca buku adalah orang paling keren. Ehehe tidak lupa kita harus berucap “Selamat Hari Buku Nasional”, jangan biarkan segelintir orang saja yang (menjadi) keren. []

read more
Riset

Survei Kepuasan Acara PSKM IAIN Tulungagung 2017

IMG_0144

Beberapa  hari yang lalu kampus IAIN Tulungagung telah melaksanakan hajat penting yaitu Pekan Seni Kreatifitas Mahasiswa (PSKM). PSKM diselenggarakan  untuk mengingat hari berdirinya IAIN Tulungagung. Momen ini diselenggarakan pada tanggal 16-22 April 2017.

Tema-tema unik disajikan setiap kali acara digelar. Tema-tema yang menuntut implementasi yang sesuai. Tahun ini tema yang diusung adalah “Maha Karya Pemuda Bangsa.”

Namun, setiap acara tak luput dari kelebihan dan kekurangan. begitu juga dengan PSKM. Maka dari itu, survei ini dilakukan sehingga hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi kedepannya.

Responden survei adalah para peserta PSKM 2017. Teknik pemilihan responden yang digunakan adalah random sampling dengan metode tanya-jawab. Peserta ini diambil dari lembaga intra kampus seperti himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Adapun yang dari luar seperti pedagang kaki lima (PKL), Himpunan Mahasiswa Daerah (HMD) dan lain-lain. Karena merekalah yang mengikuti kegiatan PSKM sampai selesai.

Adapun persentase hasil survei sebagai berikut :

Persentase tersebut menunjukan banyak peserta yang kurang puas dengan adanya PSKM tahun ini. Sedangkan yang memilih cukup puas sebanyak 25%. Lalu yang memilih dalam mengikuti acara PSKM hanya 20% dan untuk yang tidak menjawab sebanyak 10%.

Kelebihan yang dirasakan oleh peserta PSKM diantaranya: pertama, standnya berdekatan, sehingga jalinan sillaturrahim terjalin, apalagi ada gerakan solidaritas untuk korban bencana. Kedua, ada tambahan acara yang unik dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yaitu Deklarasi Mahasiswa Daerah.

Selain kelebihan, kekurangan pun disertakan dengan tujuan agar PSKM tahun depan bisa lebih baik. Adapun kekuranganya antara lain: pertama, tata letak harus di perhatikan antara panggung utama dan stand. Terutama tata letak stand tahun ini dinilai berantakan sehingga pengunjung tidak leluasa berkeliling melihat-lihat semua stand.

Kedua, fasilitas yang disediakan panitia tidak sebanding dengan harganya. Ketiga, Acara bentrok dengan ujian tengah semester (UTS) dan Wisuda. Keempat, tidak ada drainase/selokan air sehingga ketika hujan terjadi genangan air di antara stand. Kelima, parkir yang jauh dan menyulitkan. Keenam, ID Card perlu ditambah. Ketujuh, Acara seperti kurang terkonsep dan dadakan. Yang paling fatal adalah seringnya listrik padam dikarenakan kapasitas listrik yang kurang. Kedelapan, Publikasi kurang luas.

Adapun beberapa harapan untuk PSKM kedepannya, diantaranya: pertama, kreatifitas ditingkatkan kembali, karena tajuk acara ini adalah pekan seni dan kreatifitas. Kedua, diberikanya kategori juara (seperti: stand terkreatif, penampilan terkeren, stand yg paling dulu hadir dll) agar menjadi motivasi bagi peserta PSKM. Ketiga, bintang tamu yang didatangkan harus di sesuaikan dengan mode dan tema alias yang menarik. Keempat, Acara di sesuaikan dengan kampusnya (Institut Agama….). Keenam, Kepanitiaanya di bentuk minimal 2 bulan sebelum acara dimulai. Ketujuh, sesekali Rektor atau Presma ikut blusukan ke stand. Kedelapan, Jika ada setiap stand di beri cinderamata dll.

Terlepas dari itu, PSKM jika dinilai dari angka 0-100 untuk menunjukan sebuah kepuasan. Dari sepuluh responden yang telah memberikan angka, jika dijumlahkan sebanyak 649 kemudian dibagi 10 sehingga rata-ratanya yaitu 6,49% untuk presentase kepuasan PSKM tahun 2017.

Jadi, perbandingan kelebihan dan kekurangan menurut survei terhadap peserta PSKM menggambarkan mengenai efektif tidaknya acara tersebut diselenggarakan. Mengingat lagi, PSKM adalah hajat besar IAIN Tulungagung, tidak elok rasanya jika kerugian yang dirasakan lebih banyak ketimbang manfaatnya. Oleh karena itu data-data ini kembali dihadirkan dengan harapan agar kedepannya dapat lebih baik dengan meminimalisir setiap kekurangan.

 

*Sumber data adalah hasil survei tim news radio Genius FM

read more
1 23 24 25 26 27 29
Page 25 of 29